Bahwa mulai Indonesia diproklamasikan sebagai Negara yang Merdeka, sampai dengan awal Pemerintahan Orde Baru   desa Karangrejek  merupakan sebuah hamparan berbatu keras bercampur tanah, masyarakatnya sebagian besar merupakan petani tradisi, pada musim hujan tanaman utamanya padi, ketela pohong, jagung, dan musim marengan setelah padi dipanen, ditanami pala wija, kacang/ kedelai dan setelah itu sudah tidak dapat menanam apa-apa, karena musim kemarau telah tiba. Kebutuhan air untuk minum, membuat resapan ditepi sungai, yang dinamakan belik. Kemudian untuk mandi dan cuci termasuk mandi hewan, seluruhnya jadi satu disungai.
Mulai tahun 1970 Pemerintah Orde Baru ada program untuk Pembuatan sumur gali untuk tanaman sayur di ladang pertanian, sumur dalam melalui Program Pengembangan Air Tanah ( P2AT ) baik untuk Iri gasi maupun untuk air minum, dan di pedesaan secara swadaya masyarakat juga menggali sumur untuk kebutuhan air bersih, untuk minum, mandi dan cuci dengan kedalaman rata-rata dari 25 meter sd. 40 meter bagi yang belum mampu untuk membuat sumur gali sendiri, mengambil air dari sumur ladang, atau sumur pompa dengan cara dipikul, yang jaraknya mulai dari 500 hingga 2000 meter. Permasalahan yang sering tiba bilamana musim kemarau panjang, bias dipastikan seluruh sumur gali kering, sehingga kembali lagi mengambilnya air juga hanya ke sungai, atau sumur pompa.
Pada Tahun 1990 an Pemerintah Kabupaten  melalui PDAM. Membantu untuk mengatasi sebagaimana dihadapi oleh masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan Air Bersih sampai sekarang, namun juga belum dapat mengatasi permasalahan dimaksud, dan karena keterbatasannya sampai dengan saat ini masih belum dapat memberikan pelayanan yang cukup. Pada Tahun 2005 Atas seijin/rekomendasi  Bupati Gunungkidul Pemerintah Desa bersama-sama dengan lembaga desa berupaya langsung untuk mengajukan ke Departemen PU melalui Satker Pam. Daerah Istimewa  Yogyakarta, agar dapat diberikan fasilitas program pengeboran sumur dalam, yang selanjutnya akan dikelola Desa  untuk membantu pelayanan kebutuhan Air Bersih.
Pada Tahun 2007 permohonan dikabulkan, dan pada sosialisasi akan dimulai pengeboran Saker Pam. DIY Bapak Ir. Suharjono, Sujanadi MM. memberikan introksi penekanan- penekanan yang isinya :

  •  Harus dibentuk Pengelola yang Profesional
  • Harus dapat dikembangkan  secara mandiri.
  • Harus dibuat aturan Pengelolaan yang transparan, dan Akuntabel
  • Agar dibentuk sebuah Koperasi

Bertitik tolak dari saran-saran tersebutlah akhirnya Pemerintah Desa bersama lembaga dan Tokoh membuat AD ART. Pengelolaan Air Bersih  dan membentuk Pengelola pada tanggal 18 Maretr  tahun 2007.Pada akhir 2007 Proyek telah selesai dikerjakan, dan pada tanggal 20 Maret 2008 secara resmi proyek diserahkan kepada Pemerintah Desa Karang rejek berupa :

  • Pengeboran beserta Exploitasinya.
  • Pipa Transmisi  100 mm sepanjang 1800 m
  • Water meter dan pipa untuk sambungan rumah sebanyak 125 Water meter.yang total nilai asset seluruhnya. Rp.768.416.085,00

Menjelang penyerahan asset pengelola telah mempersiapkan diri, dan minta bantuan pipa untuk dikembangkan sendiri secara gotong royong, dan telah diberikan tambahan sedikit pipa untuk segera dipasang sendiri
Pada tanggal 20 maret 2008 Bapak menteri Pekerjaan Umum Bp. Jaka Kirmanto memberikan  bantuan tambahan pipa jaringan 50 mm sejumlah 360 m yang sampai dengan tanggal tersebut total penyerahan asset dari Pemerintah sejumlah Rp. 1.056.065.444,00 Intruksi/amanatnya :

  •  Agar pemerintah Desa beserta seluruh masyarakat menjaga, dan memelihara seluruh asset Pemerintah tersebut.
  • Agar dikembangkan secara swadaya, mandiri sesuai kreatifitas/ kearifan lokal

Sesuai dengan intuksi dimaksud yang seluruh masyarakat mendengar, maka diadakan gerakan untuk kerja bakti penggalian pipa jaringan tanpa dibayar, dan oleh Pemerintah sejalan dengan diterbitkannya Perda oleh Bupati Gunungkidul Nomor: 5 Tahun 2008 tentang tata cara pendirian BUMDes, maka Pemerintah Desa menindak lanjuti Dengan Perdes Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pendirian BUMDes. Yang salah satu unit usahanya adalah Pengelolaan Air Bersih.

 

Setelah BUMDes. Desa Karangrejek berdiri dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menunjukan kemanfaatanya di masyarakat dan menunjukan kebersamaan dalam membangun Desa, karena 20 % dari keuntungan BUMDes. Disetor ke Kas Desa yang selanjutnya telah dikelola melalui APBDes. Yang pada tahun 2011 – 2012 Desa telah mampu melaksanakan Pemeliharaan Jalan lingkungan lebih dari  5.000 meter panjang, lebar 3 meterdengan total biaya Rp.340.980.000,00 telah dapat melaksanakan / Pembuatan Tugu masuk Jalan-jalan Padukuhan sejumlah 19 Tempat, dengan rata-rata biaya stimulant dari Desa Rp.2.500.000,00 per tempat.

Rencana Pengembangan

Karangrejek masih jauh dari harapan masih banyaknya pengusaha kecil yang mencari pinjaman diluar Bank Pemerintah, jadi larinya ke BPR, bunga kalau dihitung kosnya masih sangat tinggi rata-rata diatas 2 % terlebih sekarang banyak kriditor yang berkeliaran sampai kepelosok desa dengan kedok Koperasi cicilan mingguan, bahkan harian yang kalau dihitung bunganya per tahun 40 % belum yang system gadai liar sebulan sampai  diatas 10 %       Kalau kita melihat gejala semacam ini sangat perlu untuk menumbuh kembangkan keberadaan BUMDes. Khususnya di Desa Karangrejek kita sendiri dengan jalan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan Sumber daya manusia yang di miliki, selanjutnya atas nama Pemerintahan desa Karangrejek dengan rendah hati kami mohon kepedulian para pihak dengan jalan :

  1. Mohon Kepada Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan atau Pemerintah Kabupaten, BUMN/ Perbankan dan lembaga lembaga keuangan / Para Donator baik secara kelembagaan/ perorangan untuk dapat meningkatkan kepeduliannya memberikan stimulant Bantuan Dana segar baik hibah atau fasilitas pinjaman berjangka dengan suku bunga rendah
  2.  Para warga sedulur Karangrejek baik yang ber domisili di Pulau Jawa, Luar Jawa, dan bahkan diluar Negeri seberapapun mohon kepeduliannya untuk dapat membantu baik untuk dikembangkan maupun bantuan langsung untuk pembangunan, ataupun untuk modal kerja BUMDes. Unit Kridit Mikro (UKM) melalui Rekening Pemerintah Desa Karangrejek Bank BPD. DIY. Cabang Wonosari  Nomor :  002111000148 atau pada Bank Daerah Gunungkidul dengan Rekening Nomor : 001.214.004.00751
  3. Pemerintah Desa telah Ber upaya untuk menampung para warga Gunungkidul yang belum mampu untuk membuat rumah sendiri, termasuk warga desa Karangrejek, mohon kehadapan Bupati Gunungkidul agar mengajukan permohonan kehadapan Menteri PU. Supaya didirikan Rusunawa di Desa Karangrejek yang pengelolaannya diserahkan Desa, yang selanjutnya dikelola oleh BUMDes
  4. Mengajukan Ke menteri PU. Di Jakarta yang selama ini satu satunya sungai di desa Karangrejek yang tidak pernah kering agar dibendung kecuali untuk irigasi juga dapat difungsikan sebagai wisata air juga dikelola oleh BUMDes
  5. Lahan tanah bengkok yang tidak prodoktif seluas kurang lebih 45.000 m2 diajukan Kepada Pemerintah propinsi melalui Bupati agar dapat alih fungsikan sebagai sanggar seni dan permainan anak untuk Water boom yang selanjutnya dapat dikelola oleh swasta, dan untuk pencapaian program dimaksud diperlukan Infestor yang ahli dalam bidangnya dapat kerja sama dengan Pemerintah Desa Karangrejek

Apabila seluruh rencana pengembangan dapat terwujud akan mengurangi ketergantungan rakyat Karangrejek kepada Pemerintah Pusat, dan pembangunan secara berkala dapat berjalan lebih maju demi kesejahteraan rakyat Karangrejek pada umumnya.
Sebagai Dasar hukum untuk Pengelolaan Aset Pemerintah Desa beserta kegiatan-kegiatan masyarakatan yang ada hubungannya dengan Badan Usaha Milik Desa, Pemerintahan Desa telah ber upaya menerbitkan Peraturan Desa, Peraturan Kepala Desa yang dapat dilihat pada tautan berikut http://karangrejek.net/download/Perdes052009.docx